Posts Mentioning RSS Toggle Comment Threads | Tombol Pintas

  • slamet ismulyanto 19.19 on September 28, 2008 Permalink | Masuk log untuk meninggalkan sebuah Komentar  

    SPG, MUDIK, DAN REBUTAN… 

    Gambar diatas adalah sekumpulan Sales Promotion Girl/Boy (SPG/B) yang bergaya di depan toko yang baru buka di salah satu pusat perbelanjaan di Medan Sumatera Utara. Wajahnya jelas sumringah menyiratkan semangat dan optimisme mereka menghadapi sale ramadhan dan lebaran.

    Kunjungan saya ke Medan salah satunya adalah memanage toko exist dan toko yang baru buka dan bazar. Lokasi toko kami masuk dalam trafic yang padat pengunjung sehingga dalam waktu singkat berhasil menarik pengunjung belanja di situ.

    Secara pribadi saya adalah pengagum SPG/B sejak lama. Dulu waktu masih sebagai karyawan Matahari Department Store Jakarta, saya punya banyak anak buah pramuniaga dan mengelola SPG/B. Iseng-iseng saya cerita ke sahabat saya, kalo nggak keburu kawin mungkin istri saya adalah seorang pramuniaga atau SPG karena saking seringnya bertemu, trisno jalaran soko nggelibet. Heehehe… Ini serius, saudara!

    Dunia SPG adalah dunia wanita. 90 % mereka adalah wanita. Saya 3 tahun mengenal mereka baik pikiran, kegelisahan dan cita-cita mereka yang sederhana. Benar saja, begitu mereka kawin, sebagian besar mereka berhenti sebagai SPG. Pekerjaan SPG hanya bisa dilakoni dalam waktu singkat, artinya selama mereka masih keliatan muda saja. Tidak ada wanita diatas 30 tahun yg masih “beredar” sebagai SPG.

    SPG berasal dari beragam background, anak tukang becak, sopir, tukang bangunan, tukang jamu, dan macam-macamlah. Hampir mustahil SPG berasal dari anak direktur, apalagi menteri. Tapi jangan ditanya komitnment mereka berdiri, pasti lebih lama dari pasukan jaga di berbagai markas militer negara manapun. Anda nggak percaya? Coba hitung, bila mereka berdiri sehari minimal 5 jam dengan masa kerja 5 tahun saja (1 thn = 26 x 12 – 12 cuti) , maka artinya mereka sudah berdiri selama 5 x (26×12-12)= 5 x 300 = 1500 x 5 = 7.500 jam! Itu baru kalo mereka kerja lima tahun, Bos. Ada kok yang 10 sampe 15 tahun masih awet dengan profesi mereka. Bayangkan. Tentara mana yang bisa ngalahin SPG berdiri.

    Maka sangat tak berperikemanusiaan bila para juragan mereka nggak ngasih gaji yang layak menurut ukuran negara ini. Apalagi kalo lemburannya tidak dihitung. Waduh, runyam, yak?

    Lalu hubungannya dengan mudik? Yah jelas, gimana bisa mudik kalo sebagian juragan mereka mengikat mereka supaya tetep jualan di hari raya1 dan 2. Wah, alamat seumur-umur nggak bakal bisa melihat macet di pertigaan Cikampek atau dasyatnya kemacetan di Patrol Indramayu.

    Masih tentang mudik. Saya dan keluarga nggak mudik sudah 4 lebaran ini. Kesian ya? Bukan! Mudik bagi saya hanya kegiatan yg nggak asyik di jalan dan berakhir dengan zero. Kalo hanya silaturahmi bisa dilakukan kapan saja. Ibu saya dikampung juga sudah magfum dengan “kebandelan” anaknya yang nggak mau repot tiap lebaran mudik. Banyak waktu lain yang lebih rilek dan santai untuk bertemu ibu dan kawan-kawan di kampung.

    Belum lagi sibuknya orang menyiapkan acara mudik. Motor di service, mobil masuk bengkel lalu berlomba dengan (maap, ed.) setan di jalan agar bisa punya space cukup untuk tancep gas se-polnya, biar cepet sampe di rumah.

    Saya pernah rebutan tempat, gara-gara ngasih tempat ke ibu-ibu tua di kereta sapujagad, ujungnya malah dapet tempat di WC kereta. Berjam-jam berdiri dengan posisi dewa mabuk sampai akhirnya sampe di Malang dan turun dengan langkah sempoyongan! Pernah juga naik bis dan macet habis di Indramayu, untuk waktu yang lama.

    Waktu agak kaya dulu, pernah mudik pake mobil kantor lewat pantura. Macet, Bo. Betis rasa ilang dari dengkul. Ih..! Saking capeknya injek, gas, injek lagi, gas lagi. Aaahh…capek.

    Orang bilang capeknya terbayar ketika bertemu keluarga di rumah. Lha, kalo baliknya gimana? capeknya siapa yang bayar?

    Saat tulisan ini dibuat, saya tengah berada di sebuah gudang sempit di sebuah toko di Medan dimana ribuan orang berbelanja, berebut buang uang, demi sesuatu yang sungguh absurd, kecuali perasaan kalo nggak belanja seakan nggak ikut lebaran. Bah!

    Semoga Allah melindungi hati seperti hati saya yang memandang orang yang sedang belanja seperti semut yang lagi pesta roti di tengah lapangan yang luas. Semoga pula mereka yang nggak punya THR, nggak punya uang dan nggak punya apa-apa di lebaran kali ini, Allah memberi mereka dengan rejeki yang lebih dasyat: kesehatan dan kesabaran yang paripurna. Subhanallah….

     
  • slamet ismulyanto 19.19 on September 21, 2008 Permalink | Masuk log untuk meninggalkan sebuah Komentar  

    BELANJA. Pokoknya belanja, titik. Itulah ritual tahunan bangsa Indonesia mendekati Hari-H Lebaran. Gambar diatas diambil sekitar tgl 19 September 2008 di Plaza Medan Fair Medan, Sumatera Utara malam hari. Terlihat kerumunan orang belanja.

    Di Jakarta apalagi. Termasuk di kota-kota kecil di seluruh penjuru tanah air. Semua mall atau pusat perbelanjaan kota kecil atawa besar sedang giat memanjakan konsumen untuk berbelanja. Tua muda, laki-bini, kecil besar semua tumplek blek belanja. Apa aja yang dijual pedagang diserbu pembeli. Target sales semua pedagang tampaknya akan tercapai memasuki bulan ramadhan ini.

    Agak berbeda dengan saya. saya belum ‘belanja’ apapun itu. Alasannya sederhana, saya nggak butuh barang baru! baju masih banyak, celana masih antre untuk saya pake. Jadi ngapain belanja. Istri kemaren cerita kalo dia di Jakarta juga lagi tutup rapet dompet agar tidak belanja. Untuk tambahan naik haji, pah, begitu timpalnya.

    Ya udah, selamat malam bapak-ibu pedagang!!! Untung nggak banyak orang kayak kami. Para pedagang bisa ‘cumi’ alias cuma mingkem! Hehehe…

    Keramaian juga mulai bergeser dari mesjid-mesjid ke mall-mall. Lihatlahlah ibu-ibu dan remaja putri kita, 70-80 persen mall-mall di penuhi mereka. Para bapak dan cowok agak sedikit jumlahnya. Mungkin para bapak merasakan susahnya cari uang, jadi nggak tega ngeluarinnya. Beda dengan ibu ya? Pertama, mungkin nggak nyari jadi lebih mudah ngeluarinnya. Nggak pake feeling lagi! Hik..hik…Kedua, kalo juga ikut nyari maka itu duit seratus persen milik dia, suami nggak ikut minta.

    Hasil akhir dari paniknya mbak-mbak belanja jelas ; tujuan THR jadi nggak produktip alias habis dalam beberapa kunjungan ke mall. Kedua, ibadah ramadhan jadi berantakan dikalahkan nyari baju di mall.

    Duhai, ibu dan mbak-mbak…gimana dengan iktikaf-nya kalao pergi ke mall lebih bikin capek dari pergi ke malam-malam ganjil menyongsong lailatul khodar…, duhai bapak-bapak; masih tegakah dengan rengekan putra-putri untuk bersenang-senang di mall sementara tadarus jadi kesadaran sesaat, dan iktikaf jadi legenda.

    Lalu bagaimana dengan mas-mas dan mbak-mbak yang nggak punya dan belum dapat THR. Idiiih! Semoga hati mereka dikuatkan Allah untuk tidak punya keinginan, toh setelah lebaran berlalu yang tersisa tinggal baju baru yang numpuk dan kantong yang jebol. Kerja lagi, kerja lagi. Subhanallah.

    Dan bagi mas-mas, mbak-mbak, ibu-ibu dan bapak-bapak yang masih konsisten dengan keyakinan bahwa pertolongan Allah bagi mereka yang sabar dengan penuh ketaatan dan kesungguhan dalam malam-malam yang penuh berkah melakukan doa, iktikaf dan beribadah total; kepada mereka saya sampaikan selamat. dari merekalah mengalir keberkahan dan keteduhan bagi bumi dan langit yang bersama dalam tawaf berseru memuja keagungan Allah.

    Kepada kafilah-kafilah pencari Tuhan, awali, isilah dan akhiri bulan penuh berkah ramadhan ini dengan kesucian doa. Karena merekalah Allah menunda bencana dan karena merekalah pula bumi masih tawaf mengelilingi Allah sampai saat ini.

     
  • slamet ismulyanto 19.19 on September 18, 2008 Permalink | Masuk log untuk meninggalkan sebuah Komentar  

    BINJAI 1/2 LIMA 

    TANGGAL 18 September 2008 adalah hari ke 13 saya di Medan. Siang tadi bareng Pak Viki Firdaus (IT) Ferry International Fashion, saya pergi kunjungan ke Binjai, kota 1/2 jam perjalanan dari Medan. Kalo anda belum pernah ke Binjai, bayangkan Binjai mirip kota Bangil di Jatim atau mungkin Sumedang di Jawa Barat. Binjai penghasil duku yg terkenal tapi tadi nggak ada duku tuh. Adanya semangka yang lonjong dan besar. Jalan kesana mungkin 25 km dari Medan dan relatip lancar.

    Masih belum bisa bayangin Binjai?

    Ya udah pikirkan tentang Mardi Lestari, atlit lari 100 meter putra dulu di era 90-an.

    Sampai di Binjai Super Mall, disitu ada Matahari Dept Store, Hypermart, kami turun dan mulai bekerja. Mall ini tampak baru dan cantik. Nama besar Matahari jadi jaminan larisanya bisnis sektor ritel di Binjai Super Mall.

    Daya tarik Binjai mungkin dari sektor perkebunan yang menjanjikan sehingga peritel sekelas Matahari berani investasi miliaran rupiah di sini. Habis bekerja saya pergi ke sebelah mall ini yaitu Mesjid Agung Binjai. Parkirannya enak, tapi tempat wudhunya agak jauh sehingga jalan dari tempat wudhu ke mesjid agak diragukan kesucianya. Smoga DKM-nya memikirkan ini untuk jangka panjang.

    Kami meneruskan perjalanan balikke Medan jam 1/2 lima. Kira-kira 10 menit perjalanan, yang saya anggap mirip perjalanan mudik di sekitar Delanggu (mirip jalan di Delanggu), ada penumpang yang mo turun. lalu angkot bergerak lagi. Ada kubangan air dan di dekatnya ada orang naik sepeda motor berhenti di dekat kubangan. Angkot tetep melaju sehingga air kubangan nyemprot ke orang bawa sepeda motor. Kontan dia membalas meludahi angkot kami.

    Dan brot…!! Titik ludah itu mengenai muka saya. Alhamdulillah, ya Allah. Mimpi apa semalam dapat air ludah gratis binti tanpa diundi ini. Berkali-kali saya mengucap istigfar; apa hikmah di balik ludah orang itu ya?

    Yah! Allah melatih saya untuk menahan sabar di negeri Horas-bah ini.

    Sambil becanda Pak Vicki bilang; Pak Slamet menikmati perjalanan ini ya…

    Persis. Saya menikmati permainan yang datang dari Allah, apapun itu karena bukankah hidup hanya bermain-main di taman surga.

    Masih satu tempat lagi yang saya rencanakan akan kami kunjungi yaitu Lubuk Pakam. Lubuk Pakam, kami datang…

     
  • slamet ismulyanto 19.19 on September 15, 2008 Permalink | Masuk log untuk meninggalkan sebuah Komentar  

    MEDAN 

    ADA seorang teman cerita, kalo ke Medan naik bis. lalu kita tak tahu udah sampe atao belum. Ngetesnya cuman keluarin tangan kita. kalo arloji ditangan kita raib, berarti sudah sampe Medan. Agak serem kedengarannya. Tapi perjalanan muhibah atas biaya dinas ini jauh dari cerita diatas. Saya pergi dari Jakarta tujuan Medan pake maskapai termurah di Indonesia Lion Air. Pesawat Airbus 737-900 ini mampu mengangkut sekitar 250 penumpang sekaligus tanpa merasa keberatan. Padahal di lambung pesawat masih dijejali dengan air cargo paling tidak lebih dari 2 ton.

    2 jam di perjalanan tampak Medan indah dari udara. Kami landing pukul 15.30 wib dengan mulus. Walau para sopir taksi tampak hampir mirip dengan bandara Soetta, saya pake taksi bandara dengan tarif di tiket (nggak pake argo) Rp 45.000 tujuan carefour atau Medan Fair. Tau kalo tujuan agak jauh lagi. Sopirnya agak kasar ngganti gigi 1 ke gigi 2. Tapi over all sampailah kami di Medan Fair.

    Yang agak mengejutkan adalah di lantai 5 yg juga dihuni oleh Carefour ini ada space yg cukup luas untuk masjid. Saya teringat di Jatinegara Plaza 2 Jaktim, lantai dasar ada juga space luas untuk masjid, tapi agak jarang yg seperti di Medan ini.

    Denger-denger itu hasil perjuangan orang Aceh agar disediakan mesjid di Plaza Medan Fair. Subhanallah. Asyik juga kami kalo tiba waktu berbuka kemudian sholat Magrib. Ada acara berbuka puasa yang dananya dari uang titipan sandal dan sepatu lalu dijadikan kue untuk berbuka. Banyak sekali jamaah yg bergabung. Kerasa bener beruntungnya menjadi seorang Muslim.

    Hari ketiga di Medan, mulai saya kangen ama istri. Manusiawi donk-ya nggak? Tapi kami sering berpisah karena pekerjaan. So Allah yang akan menjaganya dan menjaga saya juga.

    Lalu lintas di Medan tentu lebih longgar di banding Jakarta. Saya tinggal di PWS (Pier Warga Siunda) selama di Medan. Sempat ngebut 3 jus baca Qur’an namun setelah itu cape nggak ketulungan. Kerjaku 12 jam sehari seminggu. Agak ketat dan naif tapi okelah.

    Saya pikir di Medan saya akan ketemu wajah persegi pol 100%, ternyata salah! Banyak wajah-wajah ganteng dan manis seperti Jakarta. Mulai wajah orang Lampung, Nias, Jawa, Batak, India, Arab, Padang dll-dah. Orang batak sendiri banyak tinggal di Sibolga, Samosir dan lain-lain. Melayu lebih banyak di Medan. Muslim ternyata bejibun di kota Medan, serasa di Jakarta deh. Karena padatnya pekerjaan saya belum bisa menikmatii mie Aceh, indahnya Istana Maimun dan keelokan Toba.

    Di Medan saya berpikir, kenapa Allah mengantarkan saya ke kesini? Kebetulankah atau ada hikmah terpendam. Ya Allah, ada kenikmatan mata melihat salah satu kota besarMU di Medan.

     
  • slamet ismulyanto 19.19 on September 8, 2008 Permalink | Masuk log untuk meninggalkan sebuah Komentar  

    JALAN SUNYI 

    LIFE begins fourthy. Hidup dimulai dari umur 40. Pas benar jalan sunyi yang dipilih oleh Gede Prama yang kita kenal sebagai Sang Penutur Kejernihan. Hidup yang hiruk pikuk membuat dia berkompromi dengan keadaan, pergilah ia ke Tajun, sebuah desa di Bali Utara. Jangan tanya saya, bagaimana repot dan perang batin yang dihadapi Gede saat berencana akan pindah dari metropolitan Jakarta ke desa kecil.

    Kemapanan kadang menyilaukan istri dan anak-anak kita. Mereka adalah penumpang di biduk kehidupan kita. Tapi warna hidup yang kita pilih banyak dipengaruhi oleh kompromi dengan mereka. Jalan kompromi kadang bukan jalan ideal tapi harus ditempuh. Ini yang membuat kehidupan laki-laki menjadi lebih beradab. Lebih manusiawi.

    Saya mulai mengerti mengapa dulu para kiai mendirikan pesantren di pelosok desa, bahkan di tepi gunung. Barangkali jalan sunyi juga yang ditempuh sehingga metode pengajaran yang diberikan para kiai kepada para santrinya lebih jernih, dan membumi. Terbayang bagaimana mudahnya transfer ilmu di saat pikiran jernih. Pemberi ilmu berpikiran jernih dan yang diberi ilmu berpikiran serupa. Dalam kejernihan setanpun jauh dari kita. Dalam salah satu hadist disebutkan Dalam ketergesa-gesaan, ada setan di dalamnya……..

    Kalau anda tengah mudik atau jalan di tempat sunyi, apa yang terbayang dalam pikiran anda? Saya pernah mengalami pengalaman serupa. Hati dan pikiran kita menyatu, ada sedikit ketakutan, tapi kita yakin Allah yang melindungi kita, ketika jalan di jalan sunyi.

    Di kehidupan kita yang sunyi, ada hasrat untuk memberi, berpartisipasi dalam kelompok yang membutuhkan kita dan selalu ada energi untuk berbagi. Jalan sunyi pasti bukan jalan orang banyak. Jalan sunyi adalah escapisme jiwa yang ingin keluar dari rutinitas, keajegan, yang tak tahu lagi kapan siang dan kapan malam.

    Dulu para pendita (yang sudah lanjut usia) pasca menjadi raja mereka mencari kejernihan hati dengan menempuh perjalanan sunyi. Banyak juga tercatat para pencari kesunyian seperti Sunan kalijogo waktu muda, Nabi Muhammad pun sangat sering mencari jalan sunyi bahkan sebelum beliau berumur 40 tahun. Muda bukan? Yah usia tua-muda bukan ukuran baku, tapi jiwa. Jiwa yang terus mencari, mencari, dan mencari sesuatu.

    Umur saya 40, pernah saya ngajak istri saya untuk berencana kembali ke desa, setelah 12 tahun di kota.

    Apa dia bilang; pah, mama masih suka di Jakarta. !!??

     
  • slamet ismulyanto 19.19 on September 5, 2008 Permalink | Masuk log untuk meninggalkan sebuah Komentar  

    RINDU 

    TAHUN INI adalah ramadhan yang agak berat.  Kantorku yang baru tidak memberlakukan jam pulang cepat tapi jam pulang normal jam 17.00 wib.  Akibatnya aku sering berbuka puasa di kantor atau di jalan.  Nggak papa sih, tapi jadwal tarawihku yang tahun sebelum-sebelumnya bagus hampir 90% dilakukan di mesjid.  Sekarang tarawih serba darurat.  Malah kadang nggak tarawih saking capeknya.  Ini yang aku sebut ramadhan tahun ini agak berat.

    Belum lagi kantor nugasin aku ke Medan (Sumut) sejak 10 hingga 30 September 2008.  Walah.  Target mendapatkan waktu untuk sholat di mesjid selama malam-malam ganjil agak berantakan.  Tahun lalu aku selalu sukses sapu bersih untuk iktikaf di mesjid komplek.  Kadang bahkan sepuluh hari terakhir di bulan ramadhan.  Entah untuk tahun ini.

    Puasa hari pertama udah ngemut permen, 5 hari pertama sudah 2 malam tidak tarawih, entah apa lagi kejadian yang kudapat selama ramadhan tahun ini.  Ya Allah, aku hanya menjalani semua petunjuk dan takdirMU.  Bila engkau lapangkan diriku aku berharap aku dapat mengulang pertemuan khuisus seperti Tahun lalu, ya Allah.  Apalah arti hidup yang datar tanpa pertemuan yang spesial di tempat spesial karena panggilanMU ya Allah.    Duhai Allah, berilah satu tempat indah di sebuah mesjid Indah di Medan untukku.  Tak penting besar atau kecil mesjidnya asal aku bisa menyeruMU dan bersujud dalam doa-doa yang panjang dan syahdu.

    Duhai Allah, aku meminta kepadaMU agar tahun ini ramadhan memenuhi seluruh rongga nafasku dan seluruh denyut nadiku, karena aku ingin menjadi manusia yang menjemput ramadhan  dengan seluruh rindu.  Rindu kepadaMu ya Allah.   Duhai Allah, kalo aku merindukan manusia, maka hanya kecewa yang kudapati.  tapi manakala kerinduan untuk bertemu denganMU maka semakin bahagialah yang aku jumpai.  Menatap bulan menjadi lebih damai dalam hati, mendengarkan jengkerik mengerik menjadi kekaguman yang tak bertepi, Dan menyimak angin berdesir lembut,  menambah keimananku padaMU.

    Wahai Pencipta Semesta, Engkau telah ciptakan manusia-manusia mulia disisimu karena ijinMu danEngkau hinakan manusia-manusai lain karena keburukannya sendiri.

    Wahai Pemilik Segala,  Engkau sediakan ramadhan bagi seluruh umatMU agar ia tahu ada bulan penuh magfirah bagi 11 bulan yang lain.  Engkau siapkan bulan pengampunan untuk 11 bulan penuh dosa, dan Engkau Jemput insan-insan mulia yang datang dengan doa-doa untukMU dengan limpahan kebahagian lahir dan batin.

    Wahai Pemiik Rindu: Bicaralah Siapa Yang Rindu…………….

     
  • slamet ismulyanto 19.19 on September 1, 2008 Permalink | Masuk log untuk meninggalkan sebuah Komentar  

    RAMADHAN 1.9.08 

     

     

    Hari ini adalah hari pertama ramadhan 2008.  Seperti biasa kekonyolan saya mulai terjadi.  Waktu yampe kantor jam 7.30 pagi, abis nolong ngangkat merchandisenya Pak Syahril Kamis, driver paling senior di tempat kerja, saya langsung ngerasa haus.  Hari-hari biasa, di mejaku selalu tersedia permen rasa kopi, favoritku.  Ya udah, demi melihat permen favorit, langsung kupas…………dan: masuk.  Semenit, dua menit, tiga menit.

    Astagfirullah!  Bukankah ini puasa!  Buru-buru kukeluarkan permen itu.  Walah, baru juga hari pertama puasa, udah blunder.  Ya Allah maafkan hambaMU yang khilaf ini. 

    Malam tadi sih aku bareng istri udah setting bener.  Pergi tarawih berdua di Mesjid Al-Muqqarabin di Perumahan Bukit Cengkeh 2 Cimanggis DEPOK.  Sound di mesjid ini cakep, lantai 1 untuk ibu-ibu dan lantai dua khusus-on bapak-bapak.  Haji Daryono (pengusaha reklame) meminjamkan handycam dipasang di lantai 2 sehingga gerakan imam dan pemberi tausyiah dapat real time di lihat oleh jemaah ibu-ibu di bawah.

    Setengah 9 pas tarawih bubar.  Saya pasang alarm biar nggak kelewatan sahur, tapi benar saja, ibu mertua jam 3.30 lah yang nge-bel kami bangunin kami.  Waalah ibu mertua dari Banjarmasin sengaja bangunin anaknya agar makan sahur.  Idiidh hanya ada di Indonesia.  Hihihi…….

    Sahur kami lalui dengan sukses, tapi ya……….itu.  Kok ya makan permen.  Ya Allah bagaimana bisa meraih keberkahan dariMU?  Kalo puasa aja masih acak-adul.

     
c
Tulis postingan baru
j
tulisan berikutnya/komentar berikutnya
k
tulisan sebelumnya/komentar sebelumnya
r
balas
e
sunting
o
tampilkan/sembunyikan komentar
t
ke atas
l
masuk ke log
h
show/hide help
esc
batal